Binatang Idaman Nabi

Binatang Idaman Nabi
pernahkan kita memperhatikan tiga bintang kecil yaitu semut,laba-laba,dan lebah? Mungkin kita sependapat bahwa diantara ketiganya semut lah yang paling rajin menghimpun makanan. Ia menghabiskan waktu-waktunya hanya untuk mengumpulkan makanan, sedikit demi sedikit tanpa henti-hentinya. Semut ini cenderung menghimpun makanan persediaan bertahun-tahun,walaupun disadarinnya usianya sendiri tidak lebih dari satu tahun. Ketamakannya sedemikian besarnya,sehingga tak jarang kita melihat semut yang berusaha memikul sesuatu yang jauh lebih besar dari badannya,meskipun sesuatu itu sebenarnya tidak berguna baginya.
Lain lagi halnya dengan laba-laba. Mungkin tidak ada binatang yang lebih mengerikan dari pada laba-laba. Sarangnya,walaupun lemah, jelas bukan tempat yang aman bagi mahkluk yang lain. Ada pun yang berlindung atau terjaring disana pasti akan disrgapnya dengan tak kenal ampun. Bukan itu saja, jantannya sendiri selepas berhubungan ,selalu di bunuh oleh betinannya. Bahkan hingga dapat saling memusnahkan antar sesamanya.
Bagaimana dengan lebah? Lebah sangat disiplin dan mengenal pembagiankerja yang sangat baik. Sarangnya dibangun berbentuk segi enam, yang telah terbukti sangat ekonomis dan kuat dibandingakan bila segi empat atau segi lima. Dan lagi sarangnya selalu terjaga dari benda-benda yang tidak berguna. Yang dimakannya pun adalah sari kembang-kembang yang kemudian diolahnya menjadi madu dan lilin yang sangat bermanfaat untuk manusia. Lebah tidak mengganggu bi la tidak diganggu. Senggatnya hanya dikeluarkan bila ia merasa terancam saja. Dan sengatnya itu pun ternyata dapat menjadi obat bagi penyakit-penyakit tertentu.
Sikap hidup manusia sering kali diibaratkan dengan semut,laba-laba,atau lebah. Manusia yang berbudaya semut ,senag menghimpun dan menumpuk sesuatu yang tidak dinikmatinya. Ia menggali ilmu tetapi tidak mengolahnya lebih lanjut sehingga jiwanya tetap saja kering. Ia menumpuk-numpuk harta tanpa mengerti makna harta itu sendiri,sehingga ia tetap saja seolah-olah fakir. Aji mumpung adalah andalan ilmunya. Sedangkan manusia yang berbudaya laba-laba tidak lagi butuh berpikir apa,dimana,dan kapan ia makan: tetapi yang mereka pikirkan adalah siapa hari ini yang akan mereka makan. Sebaliknya manusia yang berbudaya lebah tidak mengganggu,apa lagi merusak. Tidak makan kecuali yang baik. Tidak menghasilakn kecuali yang bermanfaat. Dan jika dirinya menimpa sesuatu,tidak akan menyebabkan kerusakan.
Dalam masyarakat kita banyak sekali terlihat semut yang berkeliaran dan laba-laba yang selalu siap mencaplok. Sedangkan lebah sudah sangat sulit kita temui.
Nabi kita yang mulia, Muhammad Rasulullah saw, pernah beramanat bahwa seorang mukmin itu hendaknya seperti lebah. Namun nampaknya kita lebih suka menambah jumlah semut, atau bahkan laba-laba (masya Allah!) , ketimbang berpartisipasi memperbanyak populasi lebah. Memang minoritas yang berkualitas itu tidaklah mudah.

Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu
An-Nahl (16):66

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s